Tafsir Al-Furqan karya A. Hassan merupakan salah satu karya tafsir berbahasa Melayu-Indonesia paling berpengaruh pada abad ke-20. Disusun dengan tujuan mulia untuk memudahkan umat Islam memahami makna dan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an, kitab ini menjadi tonggak penting dalam sejarah penyebaran ilmu tafsir di Nusantara.
Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT, kitab Al-Furqan diterbitkan kembali sebagai bagian dari upaya menyebarkan pemahaman terhadap kitab suci umat Islam. Penerbit menjelaskan bahwa tidak ada perubahan sedikit pun dalam bahasa maupun susunan kalimat aslinya, demi menjaga keautentikan karya besar ini.
Tujuan utama penerbitan Al-Furqan adalah membangkitkan semangat kaum Muslimin agar kembali mencintai, memahami, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an. Diharapkan, melalui kitab ini umat Islam lebih termotivasi untuk meneladani isi dan makna kalamullah dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pengantarnya, A. Hassan mengisahkan bahwa bagian pertama tafsir ini pertama kali terbit pada bulan Muharram 1347 H (Juli 1928). Namun, karena kesibukannya menulis kitab-kitab penting lainnya untuk Persatuan Islam (Persis), penyusunan tafsir ini baru dapat dilanjutkan hingga Surah Maryam pada tahun 1941.
Kemudian, pada tahun 1953, seorang tokoh bernama Tuan Sa’ad Nabhaan meminta A. Hassan untuk menulis ulang tafsir tersebut dari awal hingga lengkap 30 juz. Dalam penulisan ulang ini, A. Hassan menekankan pentingnya memudahkan pembaca memahami arti setiap ayat secara langsung tanpa banyak perdebatan tafsir yang bercabang.
Dalam menjelaskan metode penerjemahannya, A. Hassan menegaskan bahwa beliau berusaha menerjemahkan ayat sedekat mungkin dengan makna kata per kata (harfiyah), selama tidak mengganggu kefasihan bahasa Melayu-Indonesia. Jika makna literal terasa janggal, barulah beliau menyesuaikannya agar tetap mudah dipahami.
Sebagai contoh, frasa Arab “qala lahu” tidak diterjemahkan secara kaku menjadi “ia berkata baginya”, melainkan disesuaikan menjadi “ia berkata kepadanya”. Begitu pula “amanna billahi” diterjemahkan menjadi “ia percaya kepada Allah”, bukan “ia percaya dengan Allah”. Pendekatan ini menunjukkan kepekaan A. Hassan terhadap keindahan dan kejelasan bahasa, tanpa mengorbankan makna Al-Qur’an.
Tafsir Al-Furqan bukan hanya sebuah karya ilmiah, tetapi juga manifestasi kecintaan A. Hassan terhadap Al-Qur’an. Ia berupaya agar umat Islam tidak hanya membaca, tetapi benar-benar memahami isi kitab suci tersebut. Melalui bahasa yang mudah, tafsir ini menjadi jembatan bagi masyarakat awam untuk mendalami makna ayat-ayat Allah tanpa harus menguasai bahasa Arab terlebih dahulu.
Hingga kini, Tafsir Al-Furqan tetap relevan untuk dijadikan bahan kajian, terutama bagi mereka yang ingin melihat bagaimana tafsir modern di Indonesia berkembang dengan pendekatan bahasa yang komunikatif, jelas, dan tetap setia pada makna asli Al-Qur’an.
Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Tafsir Al-Qur’an Al-Furqan Karya A. Hassan" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada kritik dan juga saran silahkan untuk memberikan komentar atau tanggapan di kolom komentar untuk perkembangan blog ini

%20(A.%20Hassan)_Page1.jpg)
%20(A.%20Hassan)_Page54.jpg)
0 Komentar
Silahkan untuk memberikan komentar, dan berilah kami kritik, saran dan kesan.