Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari merupakan salah satu karya tasawuf paling berpengaruh dalam tradisi keilmuan Islam. Keunikannya terletak pada bentuknya yang tidak lazim: tanpa judul resmi dari pengarang, tanpa mukadimah, tanpa basmalah, dan tanpa pembagian bab. Ia hadir sebagai rangkaian mutiara hikmah yang padat, dalam, dan langsung menyentuh dimensi batin manusia, sehingga terus dipelajari lintas generasi, khususnya di pesantren-pesantren Nusantara.
Meskipun tidak banyak memuat kutipan eksplisit dari Al-Qur’an dan Hadis, kandungan Al-Hikam sepenuhnya berakar pada keduanya. Petuah-petuah Ibnu Atha’illah lahir dari pengalaman spiritual yang matang dan pemahaman mendalam terhadap syariat. Karena itulah, para ulama besar melihat Al-Hikam bukan sebagai teks bebas dalil, melainkan sebagai kristalisasi makna Al-Qur’an dan Sunnah dalam bahasa hikmah dan tasawuf.
Seiring tersebarnya Al-Hikam, lahirlah banyak kitab syarah (penjelasan) yang membantu pembaca memahami maknanya. Di antara yang paling populer adalah Syarh Al-Hikam karya Ibnu ‘Abbad Ar-Rundi, Imam Asy-Syarqawi, dan Ibnu ‘Ajibah. Di era modern, penjelasan mendalam juga diberikan oleh Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi, yang memperkaya pemahaman Al-Hikam dengan dalil-dalil naqli dan analisis kontekstual.
Buku yang dibaca pembaca saat ini merupakan terjemahan Syarh Al-Hikam karya Syaikh Abdullah Asy-Syarqawi, sebuah syarah yang sangat dikenal di lingkungan pesantren Indonesia. Keunggulan Asy-Syarqawi terletak pada gaya penjelasannya yang sistematis, lugas, dan aplikatif, sehingga hikmah-hikmah yang tampak abstrak dapat dipahami oleh pembaca awam tanpa kehilangan kedalaman maknanya.
Salah satu tema penting dalam Al-Hikam adalah konsep tajrid dan asbab. Tajrid menggambarkan kondisi spiritual orang-orang yang telah melepaskan keterikatan duniawi demi totalitas ibadah, sementara asbab adalah keadaan mayoritas manusia yang tetap harus berikhtiar melalui sebab-sebab dunia. Ibnu Atha’illah menegaskan bahwa kedua jalan ini sama-sama mulia, selama dipahami sebagai kehendak Allah dan dijalani dengan penuh syukur dan kesadaran.
Bagi pembaca awam, sebagian konsep tasawuf dalam Al-Hikam memang terasa berat dan menantang. Namun di sinilah pentingnya peran syarah Asy-Syarqawi, yang menghadirkan contoh-contoh konkret dan penjelasan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan ini, Al-Hikam tidak lagi dipahami sebagai teks elitis, melainkan sebagai panduan spiritual yang membumi.
Pada akhirnya, Al-Hikam Ibnu Atha’illah bukan sekadar kitab tasawuf klasik, tetapi cermin perjalanan batin manusia dalam mendekat kepada Allah. Melalui terjemahan dan syarah yang tepat, kitab ini tetap hidup dan relevan, mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal, antara dunia dan akhirat, serta antara syariat dan hakikat dalam kehidupan modern.
Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Penjelasan Lengkap Kitab Al-Hikam" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada kritik dan juga saran silahkan untuk memberikan komentar atau tanggapan di kolom komentar untuk perkembangan blog ini



0 Komentar
Silahkan untuk memberikan komentar, dan berilah kami kritik, saran dan kesan.