Belajar fiqih puasa sejatinya bukanlah sekadar hobi intelektual, melainkan sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Mengingat puasa adalah salah satu rukun Islam yang dijalankan setahun sekali, pemahaman akan aturan mainnya menjadi sangat krusial. Tanpa pemahaman yang benar, rutinitas tahunan ini berisiko kehilangan ruh dan esensinya, sehingga kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga tanpa nilai spiritual yang diharapkan.
Penting untuk kita sadari bahwa beribadah kepada Allah SWT membutuhkan ilmu sebagai kompas penggeraknya. Beribadah tanpa dasar ilmu ibarat berjalan di kegelapan; alih-alih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, ketidaktahuan justru bisa memicu kesalahan fatal yang menyebabkan amalan tersebut tidak sempurna atau bahkan tidak diterima. Ilmu adalah syarat agar setiap gerakan dan niat kita selaras dengan apa yang dikehendaki oleh syariat.
Artikel blog ini secara khusus merangkum intisari dari buku bertajuk "80 Persoalan Puasa Madzhab Syafi'i". Materi utamanya disarikan dari kitab Miah Mas'alah wa Mas'alah fi Ash-Shiyam wa ma Yata'allaq bihi karya Dr. Labib Najib Abdullah hafidzahullah. Penulis melakukan kurasi yang teliti dengan fokus hanya pada masalah puasa, sehingga poin-poin yang berkaitan dengan i’tikaf atau zakat fitrah sengaja dipisahkan agar pembahasan menjadi lebih tajam dan mendalam bagi pembaca.
Mengapa Merujuk pada Madzhab Syafi'i?
Seluruh pembahasan dalam materi ini disusun dengan merujuk sepenuhnya pada Madzhab Imam Asy-Syafi'i rahimahullah. Pemilihan satu madzhab ini bertujuan untuk memberikan panduan yang jelas, runut, dan konsisten. Dengan mengikuti satu manhaj yang telah teruji sejarah, pembaca diharapkan tidak mengalami kebingungan di tengah luasnya spektrum perbedaan pendapat hukum Islam, terutama bagi mereka yang baru mulai mendalami fiqih secara serius.
Perlu digarisbawahi bahwa fokus pada satu madzhab bukanlah bentuk fanatisme buta, melainkan sebuah strategi belajar yang sistematis sesuai nasihat para ulama terdahulu. Belajar dari satu pintu terlebih dahulu akan membantu kita membangun kerangka berpikir hukum yang kokoh. Kelak, jika dasar keilmuan sudah mumpuni, kita dipersilakan untuk mempelajari perbandingan antar-madzhab (khilafiyah) dan memilih pendapat yang paling kuat (rajih) berdasarkan kedalaman ilmu yang telah dimiliki.
Sebagai manusia yang lemah dan tak luput dari kesalahan, penulis menyadari bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah Ta’ala semata. Oleh karena itu, penulis membuka diri seluas-luasnya terhadap kritik dan saran yang bersifat membangun. Setiap masukan dari pembaca akan menjadi bahan introspeksi diri yang berharga bagi penulis agar terus berkembang dan memberikan karya yang lebih baik di masa mendatang.
Sebagai penutup, semoga hadirnya ulasan mengenai 80 persoalan puasa ini mampu memberikan pencerahan bagi kita semua. Mari kita persiapkan diri menyambut bulan suci dengan bekal ilmu yang memadai agar ibadah kita lebih berkualitas dan sesuai dengan tuntunan para ulama. Semoga Allah SWT memberkahi setiap ikhtiar kita dalam menuntut ilmu dan menjadikan amalan ini sebagai pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak.
Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "80 Persoalan Puasa Madzhab Syafi'i karya Dr. Labib Najib" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada kritik dan juga saran silahkan untuk memberikan komentar atau tanggapan di kolom komentar untuk perkembangan blog ini



0 Komentar
Silahkan untuk memberikan komentar, dan berilah kami kritik, saran dan kesan.