Kamus Induk Al-Qur'an Pendamping Metode Granada

Kamus Induk Al-Qur'an

Kamus Induk Al-Qur’an disusun sebagai standar untuk memudahkan pencarian lafadh beserta maknanya, lengkap dengan nomor ayat dan nomor surat. Kamus ini dibuat agar pengguna dapat menelusuri kata-kata dalam Al-Qur’an secara sistematis, cepat, dan terarah.

Sebagaimana kamus bahasa pada umumnya, Kamus Induk Al-Qur’an juga menyertakan akar kata (root word) beserta seluruh turunannya. Fokusnya adalah kata-kata yang memang muncul dalam Al-Qur’an, sehingga pencarian makna menjadi lebih relevan dan tidak melebar ke penggunaan bahasa Arab di luar konteks wahyu.

Kamus ini memiliki fungsi yang lebih khusus, yaitu sebagai pendamping paket Metode Granada. Dengan demikian, Kamus Induk Al-Qur’an tidak hanya berperan sebagai referensi biasa, tetapi juga menjadi alat bantu utama untuk memperkuat proses belajar penerjemahan Al-Qur’an secara bertahap.

Perhatian umat Islam dalam menghayati dan mempelajari Al-Qur’an sangat besar. Hal ini wajar karena Al-Qur’an adalah pedoman hidup di dunia dan akhirat. Besarnya perhatian tersebut tampak dari banyaknya cara yang digunakan untuk memahami Al-Qur’an, terutama melalui metode-metode penerjemahan yang semakin beragam.

Beberapa metode yang berkembang di masyarakat antara lain metode penerjemahan Al-Qur’an sistem 40 jam, metode penerjemahan Al-Qur’an sistem 100 kali pandai, dan metode penerjemahan Al-Qur’an Granada sistem empat langkah. Masing-masing metode hadir sebagai ikhtiar untuk mempermudah umat dalam mendekat kepada makna Al-Qur’an.

Metode Granada sendiri merupakan salah satu metode yang cukup populer dalam penerjemahan Al-Qur’an. Metode ini menggunakan empat langkah utama, yaitu: menguasai komponen kalimat dalam bahasa Arab, menguasai kata-kata tak berubah, menguasai rumus-rumus Granada, serta latihan yang istiqamah dan berkesinambungan.

Namun perlu dipahami, seorang penerjemah bukanlah mesin terjemah. Ia harus mampu mempertahankan teks sebagai teks, bukan sekadar hasil terjemahan yang kehilangan ruh dan berubah menjadi “sampah”. Karena itu penerjemah tidak bisa hanya bergantung pada kamus, sebab dalam beberapa kasus kamus tidak menyediakan makna yang paling tepat. Dibutuhkan wawasan konteks, penyelaman mendalam, kedekatan emosional dengan teks, kesabaran, serta kehati-hatian agar tidak tergesa-gesa memvonis satu kata hanya dengan satu makna tertentu.


DOWNLOAD

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Kamus Induk Al-Qur'an Pendamping Metode Granada" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada kritik dan juga saran silahkan untuk memberikan komentar atau tanggapan di kolom komentar untuk perkembangan blog ini

0 Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar, dan berilah kami kritik, saran dan kesan.