Segala puji bagi Allah atas segala limpahan rahmat-Nya, sehingga sebuah proyek intelektual yang bermakna ini dapat terselesaikan. Di hadapan para pembaca sekalian, kini telah hadir terjemahan dari sebagian khazanah besar dunia Islam, yakni kitab Al-Masalik wal Mamalik karya Abu Ubaid Al-Bakri. Beliau merupakan seorang ilmuwan besar asal Andalusia (Spanyol Islam) yang hidup pada kurun ke-5 Hijriah. Kehadiran terjemahan ini diharapkan mampu menjadi jembatan bagi kita untuk menengok kembali bagaimana dunia diatur dan dipetakan oleh para pendahulu kita lebih dari sembilan abad yang lalu.
Kitab monumental ini diyakini selesai disusun pada sekitar tahun 460 H atau bertepatan dengan 1058 M. Sebagai sebuah karya geografi klasik, Al-Masalik wal Mamalik mencerminkan puncak kejayaan literasi dan rasa ingin tahu ilmuwan Muslim pada masa itu terhadap bentang alam dunia. Abu Ubaid Al-Bakri tidak hanya mencatat koordinat geografis, tetapi juga merekam denyut kehidupan, budaya, dan rute perdagangan yang menghubungkan berbagai belahan bumi, menjadikannya salah satu rujukan paling otoritatif di zamannya.
Penting bagi kita untuk memberikan catatan teknis guna menghindari kekeliruan sejarah. Dalam tradisi literatur Arab klasik, judul Al-Masalik wal Mamalik (Jalan-jalan dan Kerajaan-kerajaan) merupakan judul yang cukup populer dan digunakan oleh beberapa penulis berbeda. Selain Al-Bakri, terdapat tokoh-tokoh besar lain seperti Ibn Khordadbeh, Ibn Hawqal, hingga Al-Istakhri yang juga menyusun karya dengan judul serupa. Namun, karya Al-Bakri memiliki keunikan tersendiri dalam gaya penyampaian dan kedalaman informasi yang disajikannya.
Secara fisik, kitab asli karya Al-Bakri ini terdiri dari dua jilid tebal yang sangat sarat dengan informasi mendetail. Namun, pada kesempatan kali ini, fokus terjemahan sengaja diarahkan pada bagian-bagian yang memiliki relevansi sejarah yang kuat dengan kita, yakni wilayah Kepulauan Melayu dan perairan Lautan Hindi. Selain itu, terselip pula catatan-catatan menarik mengenai laut-laut lain yang menjadi jalur nadi penghubung antarperadaban di masa silam.
Penerjemahan bagian Nusantara ini menjadi sangat krusial karena memberikan kita perspektif "orang luar" tentang bagaimana wilayah kita dikenal di mata dunia internasional pada abad ke-11. Catatan-catatan Al-Bakri mengenai rute maritim dan kepulauan ini membuktikan bahwa wilayah Melayu telah lama menjadi bagian integral dari jaringan perdagangan dunia. Ini adalah upaya untuk memperkaya narasi sejarah bangsa kita melalui sumber-sumber primer yang selama ini mungkin sulit diakses karena kendala bahasa.
Tentu saja, apa yang tersaji saat ini barulah sebagian kecil dari samudra ilmu yang terdapat dalam dua jilid asli kitab tersebut. Masih banyak bagian lain yang belum tersentuh terjemahan dan menyimpan misteri sejarah yang menarik untuk diungkap. Saya senantiasa berdoa agar Allah SWT mengaruniakan kesehatan dan kesempatan di masa mendatang agar sisa bagian dari kitab ini dapat saya selesaikan, sehingga khazanah keilmuan kita semakin lengkap dan paripurna.
Sebagai penutup, apresiasi yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada saudara Naseer Sobree dan Baytul Hikma yang telah dengan tulus bersedia menerbitkan dan menyebarluaskan karya ini. Terima kasih juga kepada para pembaca dan pecinta ilmu yang terus memberikan dukungan moral dalam usaha memperkaya literasi bangsa. Semoga karya kecil ini menjadi amal jariyah dan memberikan manfaat luas bagi generasi mendatang dalam memahami akar sejarah dan kejayaan intelektualnya. Amin.
Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Al-Masalik wal Mamalik karya Abu Ubaid Al-Bakri" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada kritik dan juga saran silahkan untuk memberikan komentar atau tanggapan di kolom komentar untuk perkembangan blog ini



0 Komentar
Silahkan untuk memberikan komentar, dan berilah kami kritik, saran dan kesan.