Terjemah Fatawa al-Albani Fi Mizan asy-Syari'ah


Ensiklopedi Kesesatan Al-Albani: Menjaga Akidah dari Penyelewengan Kontemporer


Menegakkan amar makruf nahi mungkar adalah pilar utama dalam menjaga kemurnian ajaran Islam, sebagaimana yang dicontohkan oleh pemimpin para Nabi, Muhammad ï·º. Penulisan artikel ini didasari oleh kegelisahan terhadap munculnya oknum-oknum yang mengaku ahli ilmu namun justru menjajakan pemahaman yang batil. Merujuk pada hadis riwayat Al-Bukhari tentang orang-orang yang tidak memahami agamanya namun tetap berbicara atas nama agama, kita diingatkan bahwa membela kebenaran dan menyingkap kebatilan adalah tugas suci yang tidak boleh ditinggalkan, terutama di zaman di mana banyak orang "menjual" akhirat demi keuntungan materi yang sedikit.

Fenomena hari ini menunjukkan banyaknya "pembawa kebatilan" yang tampil seolah-olah memberi petunjuk, padahal mereka merusak tatanan akidah dari dalam. Mereka seringkali menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an secara serampangan untuk melegitimasi paham tasybih dan tajsim (menyerupakan Allah dengan makhluk), yang jelas-jelas menyalahi konsensus ulama Salaf dan Khalaf. Ironisnya, mereka berani merombak hadis-hadis sahih, menentang Ijma’, dan merendahkan para Sahabat serta imam-imam besar dari madzhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, hingga Hanbali hanya karena tidak sejalan dengan hawa nafsu mereka.

Salah satu sosok yang paling menonjol dalam penyimpangan ini adalah Nashiruddin al-Albani. Meski dicitrakan sebagai ahli hadis besar, kenyataan sejarah menunjukkan bahwa ia hanyalah seorang tukang reparasi jam yang belajar secara otodidak tanpa bimbingan guru (sanad) yang otoritatif. Kegemarannya membaca kitab tanpa berguru menjadikannya sosok yang tidak memiliki akar keilmuan yang sah. Akibatnya, ia seringkali membuat kerancuan massal dengan mengaku sebagai pengikut Salaf, padahal pemikirannya justru berseberangan dengan para ulama Salaf, baik dalam masalah pokok (ushul) maupun hukum cabang (furu’).

Klaim al-Albani sebagai seorang Muhaddits dinilai sangat problematis karena ia bahkan tidak menghafal satu pun hadis dengan sanad yang bersambung sempurna. Dalam berbagai karyanya, ia menunjukkan arogansi intelektual dengan menilai dha'if hadis-hadis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang telah disepakati kesahihannya oleh para pakar hadis (Huffazh). Tindakan ekstrim ini tidak hanya menunjukkan kelemahan argumennya, tetapi juga membuktikan bahwa ia telah menyempal dari mayoritas umat Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah, khususnya pengikut Asy’ariyyah dan Maturidiyyah.

Otoritas dalam menilai sahih atau tidaknya sebuah hadis sebenarnya adalah tugas para Huffazh, sebagaimana ditegaskan oleh Imam as-Suyuthi dalam Alfiyah-nya. Namun, al-Albani yang jauh dari kriteria tersebut dengan berani menerbitkan Silsilah al-Ahadits as-Shahihah. Sebuah fakta menarik terungkap saat ia terdiam ketika ditantang oleh seorang pengacara untuk menyebutkan sepuluh hadis beserta sanadnya secara hafalan; ia hanya bisa menjawab bahwa dirinya adalah "Muhaddits Kitab". Hal ini membuktikan bahwa kapasitasnya tidak lebih dari sekadar pembaca buku yang tidak memiliki otoritas riwayat.

Selain kerusakan secara ilmiah, terdapat motif duniawi yang terendus dari aktivitas dakwahnya, salah satunya adalah masalah komersialisasi ilmu. Perselisihannya dengan muridnya sendiri, Zuhair asy-Syawisy, dipicu oleh urusan harta dan "Hak Cipta" yang sebenarnya menyalahi tradisi ulama terdahulu. Selama 13 abad, para ulama menyalin kitab dengan tangan di bawah cahaya lilin demi menyebarkan ilmu secara cuma-cuma. Mencantumkan larangan memperbanyak buku tanpa izin penerbit demi keuntungan finansial adalah bentuk "bid'ah haram" yang justru dipraktikkan oleh mereka yang mengaku paling anti-bid'ah.

Sebagai penutup, penting bagi umat Islam untuk tetap berpegang teguh pada ajaran mayoritas ulama Ahlul Haq. Kita harus waspada terhadap kaum yang mengharamkan perkara yang dibolehkan agama, seperti peringatan Maulid Nabi, namun di saat yang sama merintis perkara baru yang menyalahi syariat. Artikel ini disusun sebagai bentuk pembelaan terhadap akidah dan ajaran Rasulullah ï·º agar kita terhindar dari kesesatan yang menyesatkan. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang senantiasa berada di bawah petunjuk-Nya dan dijauhkan dari fitnah orang-orang yang sombong.


DOWNLOAD

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Fatawa al-Albani Fi Mizan asy-Syari'ah" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada kritik dan juga saran silahkan untuk memberikan komentar atau tanggapan di kolom komentar untuk perkembangan blog ini

0 Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar, dan berilah kami kritik, saran dan kesan.